Kenapa Saya Tidak Kaya ???


KENAPA ORANG TIDAK BISA KAYA

Ada banyak hal yang menyebabkan orang tidak kaya. Teliti diri anda dan temukan, faktor mana yang berlaku bagi Anda dan mulailah mengubah diri. Berikut adalah hal-hal tersebut:

  1. Keyakinan yang salah atau bertabrakan
  2. Tujuan tidak jelas
  3. Menanggap tujuannya mustahil
  4. Tidak merasa harus
  5. Tak punya strategi yang terbukti berhasil
  6. Tidak mengetahui jalur yang alamiah atau yang paling mudah untuk mencapai tujuan
  7. Tidak mempunyai tujuan yang realistic
  8. Tidak melakukan tindakan sesuai rencana
  9. Tidak melakukan monitoring dan penyelarasan
  10. Meletakan tanggung jawab kepada orang lain
  11. Mudah menyerah
  12. Tidak mengelola hidup seperti bisnis yang harus untung
  13. Terpengaruh oleh pesimisme dan optimism orang lain
  14. Tidak punya mentor yang baik

Ya, beberapa factor tersebut di atas adalah mengapa banyak orang tidak menjadi kaya. Mari kita uraikan hal-hal di atas.

 

  1. Keyakinan yang Salah atau Saling Bertabrakan

Faktor pertama yang bisa menjelaskan kenapa orang tidak bisa kaya adalah keyakinan yang salah mengenai kekayaan atau keyakinan yang saling bertabrakan antara positif dan negatif.

Otak manusia pada dasarnya hanya mencari kenikmatan dan menghindari kesengsaraan. Apabila sesuatu hal dikaitkan dengan kesengsaraan kita cenderung akan menjauhinya. Apabila sesuatu hal dikaitkan dengan kenikmatan, kita akan cenderung mendekatinya. Apabila mengenai hal yang sama terdapat campur baur keyakinan dan kita mengaitkannya sekaligus dengan kenikmatan dan kesengsaraan, otak kita akan menjadi bingung atau netral.

Kita bisa ibaratkan keyakinan itu seperti magnet. Bila keyakinan itu postif bercampur baur dengan keyakinan negatif terhadap suatu hal, tak ada lagi “kutub positif” dan “kutub negatif” terhadap suatu hal, lalu pikiran kita jadi bingung atau jadi netral. Ketika kita sangat yakin bahwa “kaya” adalah positif, sementara “miskin” adalah negatif, kutubnya menjadi jelas dan kita akan menjadi “magnet”.

Pada kenyataannya, banyak orang tidak pernah menyusun keyakinannya secara sadar dari lahir sampai meninggal. Bila kita tidak menyusun sendiri secara sadar keyakinan yang kita perlukan untuk menjadi kaya, tanpa sadar kita akan terjajah oleh kata-kata seperti “Uang adalah akar dari segala kejahatan”, apa akibatnya? Akibatnya, tanpa sadar kita tidak ingin menjadi kaya karena kita tidak ingin menjadi jahat.

Sebagai contoh ada orang yang kaya raya (konglomerat) yang mempunyai rumah begitu indah, begitu besar, di suatu pulau buatan di tengah danau di sebuah lapangan golf. Disana ada landasan helicopter pokoknya megah banget. Dan dia mempunyai teman yang ingin melihat rumah orang kaya itu. Untuk melihat rumah tersebut tidak mudah, karena harus melewati penjagaan yang ketat. Ketika teman orang kaya tersebut berkunjung ke rumah yang bergitu mewah itu, orang kaya bertanya kepada temannya, “Bagaimana? Bagus tidak?” Mengejutkan sekali jawaban teman orang kaya tersebut, “Saya tidak suka punya rumah segini besarnya! Bersihinnya susah!”

Padahal kalau rumah segitu besar tidak perlu bersihin sendiri!

Saya tahu keyakinan ini timbul karena teman orang kaya tersebut selama ini membersihkan rumah sendiri, sehingga begitu melihat rumah besar langsung stress karena terbayang betapa sulitnya membersihkannya.

Apabila seseorang punya keyakinan seperti itu (“Susah membersihkan rumah besar”), orang tersebut akan sulit sekali mempunyai rumah yang besar walaupun dia mempunyai banyak uang untuk mewujudkannya.

Untuk menjadi kaya kita membutuhkan keyakinan yang kongruen bulat bahwa kaya itu baik adanya.

  1. Tujuan Tidak Jelas

Ya, alasan kedua kenapa kita tidak bisa kaya adalah karena kita tidak pernah menetukan tujuan atau tujuan kita terus berubah, sehingga tujuan kita tidak jelas.

Sangatlah penting untuk menetukan tujuan kita. Tanpa tujuan, gerak kita sama sekali tanpa arah. Begitupun jika tujuan kita terus berubah, kita akan kesulitan mengejar tujuan kita. Banyak orang tanpa sadar atau secara sadar mengganti terus targetnya sebelum targetnya tercapai. Sebentar ingin menjadi pengacara handal, sebentar ingin menjadi banker sukses, sebentar ingin menjadi pengusaha restoran yang laris. Kalau semua keinginan itu hanya sebentar dan sudah diganti sebelum tercapai, kita tidak akan mencapai apa yang kita inginkan.

  1. Menganggap Tujuannya Mustahil

Sungguh memprihatinkan bahwa sangat sedikit orang yang berani menetapkan tujuan. Lebih memprihatinkan lagi kenyataan bahwa banyak di antara orang yang sedikit itu juga merasa bahwa tujuan kita mustahil. Boleh orang lain menganggap tujuan kita mustahil, namun bila kita sendiri sudah mempunyai pendapat bahwa tujuan itu mustahil, hilang sudah kemungkinan untuk bisa tercapai tujuan tersebut. Ketika orang menganggap tujuannya mustahil dia tidak akan melakukan apa pun untuk mengejar tujuannya. Dengan demikian hasilnya nol. Kalaupun dia melakukan tindakan tertentu tak akan mencapai tujuan itu, karena dia merasa bahwa apa yang dia lakukan tak akan mencapai tujuan, tindakannya pun asal-asalan. Dia akan malas-malasan, ragu-ragu, tidak serius, penuh ketidaksangguhan, tidak bertenaga, tidak focus. Dengan demikian, sudah jelas hasilnya tidak memuaskan.

Manusia cenderung melakukan sesuatu dengan keyakinan. Ketika keyakinannya mengatakan bahwa tujuannya adalah mustahil, tindakannya akan loyo, bila hasilnya jelek, dia akan semakin percaya bahwa tujuannya mustahil.

  1. Tidak Merasa Harus

Bila kita menentukan tujuan, tetapi tidak merasa harus, tidak aka nada dorongan kuat untuk mencapainya. Walaupun kita mampu mencapai tujuan tersebut, kita tidak termotivasi untuk mencapainya, karena kita tidak merasakannya sebagai suatu keharusan.

Kalau kita tidak merasakannya sebagai suatu keharusan dari dalam diri sendiri, rintangan kecil saja sudah cukup untuk menggagalkan upaya kita untuk mencapai tujuan tersebut. Contohnya kalau kita mempunyai tujuan bahwa mobil kita tahun depan adalah Mercedes Benz, kalau kita tidak merasakan sebuah keharusan, tidak mustahil bahwa setahun saja berlalu dan kita tidak membeli mobil itu, walaupun kita punya cukup uang untuk membelinya.

  1. Tak Punya Stratei yang Terbukti Berhasil

Walaupun kita sudah mempunyai keyakinan yang tepat, tujuan (goal) yang tepat dan merasa harus, tetapi kalau strateginya salah, tetap saja kita tidak akan mencapai tujuan kita.

  1. Tidak Mengetahui Jalur yang Alamiah atau Paling Mudah untuk Mencapai Tujuan

Seperti mur dan baut, kalau murnya terlalu besar, baut yang masuk pun tidak akan berguna. Sedang kalai murnya terlalu kecil, usaha sekeras apapun terasa sia-sia.

  1. Tidak mempunyai Rencana yang Realistik

Ketika kita menentukan tujuan apa pun, tanpa rencana yang realistik kita akan kesulitan menjalankan rencana ini dan akan kesulitan mencapai tujuan tersebut.

  1. Tidak Melakukan Tindakan Sesuai dengan Rencana

Kesalahan berikutnya kenapa orang tidak menjadi kaya adalah bahwa dalam prosesnya sering kali orang tersebut tergoda untuk keluar dari action plannya. Rencana harus ditekuni. Rencana yang pelaksanaannyajustru menjauhkan kita dari tujuan harus kita ubah. Tetapi, bila kita tahu bahwa rencana aksi kita mengarah ke pencapaian tujuan, kita harus konsisten melakukan rencana itu untuk mengejar tujuan yang sudah ditetapkan.

  1. Tidak Melakukan Monitor dan Penyelarasan

Alasan berikut kenapa kita tidak mencapai tujuan kita adalah karena kita tidak memonitor prosesnya dan tidak peka terhadap hasil, apakah mengerah ke tujuan atau tidak.

Banyak orang yang sudah melakukan rencananya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan tetapi tidak pernah mau memonitor dan mengukur. Ada juga orang yang melakukan pengukuran setahun sekali atau mengkajinya setahun sekali dan tahu-tahu mereka sudah terlambat.

  1. Meletakkan Tanggung Jawab Kepada Orang Lain

Ketika seseorang mulai menyalahkan orang lain, faktor ekonomi, situasi, orang ini tidak belajar dari kegagalannya dan orang yang tidak belajar dari kegagalannya adalah orang yang gagal sesungguhnya. Kelemahan yang paling besar dari orang yang menyalahkan (blame) segala sesuatu adalah bahwa dia merasa benar dan tidak perlu lagi bertindak.

Ketika seseorang mulai ‘beralasan’ (excuses), seperti mengatakan ‘terlalu muda’, ‘terlalu tua’, ‘cuma lulusan SMP’, ‘saya laki-laki’, ‘saya perempuan’, ‘saya terlalu …’, ‘saya tidak …’ dan lain sebagainya, orang ini tidak akan bertindak sama sekali. Dan apabila tidak bertindak apa pun, tidak ada hasil apa pun.

Ketika seseorang mulai memiliki fikiran ‘pembenaran’ (justify), maka orang ini mempunyai upaya untuk menutupi kelemahan atau kemalasannya untuk berubah menjadi lebih baik dengan membenarkan keadaannya, sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya. Missal, “Terang saja saya tidak berhasil, orang saya bukan anak orang kaya, bukan lulusan luar negeri, tak punya modal.” Ketika melihat orang lain lebih hebat daripada dirinya, orang ini akan melakukan pembenaran tanpa ‘terinspirasi’ untuk belajar atau menjadi hebat. Kata-kata orang ini khas sekali. Mereka suka menggunakan ungkapan seperti “Terang saja …”, “Tidak heran …”. “Sudah tentu …”, “Tentu saja …”, “Sudah selayaknya …”.

Yang menyedihkan ialah bahwa apa pun yang dikatakan oleh orang-orang yang di atas ada kebenarannya. Memang benar misalnya orang yang lulusan SMP berkata, “saya Cuma lulusan SMP doang, kan belum punya pengalaman.” Benar bahwa dia lulusan SMP, benar bahwa dia belum mempunyai pengalaman. Tapi belum tentu benar bahwa sukses itu mengandaikan pengalaman. Orang-orang ini memakai kebenaran itu sebagai alasan untuk kemalasan dan keengganannya untuk berubah, sehingga kebenaran-kebenaran ini tidak ada manfaatnya. Satu-satunya menfaat adalah hanya membuat orang tersebut jadi hancur karena tidak belajar dan bertindak menjadi lebih baik.

  1. Mudah Menyerah

Banyak orang mengalami kejadian seperti seseorang yang menggali emas. Mereka menghentikan penggalian emas tersebut 30cm sebelum cangkulnya kena emas.

  1. Tidak Mengelola Hidup Seperti Bisnis yang Harus Untung

Setiap tahun tidak ada hasil yang bertambah dalam hidupnya. Jadi hidup seperti sia-sia, tidak ada yang dihasilkan. Bila bisnis dalam sekian tahun tidak ada yang surplus, bisnis tersebut akan tutup. Tidak bisa kita mengunakan alasan bahwa karena biaya operasional memang besar, hasil usaha hanya bisa menutup biaya operasional. Hasil isaha harus lebih besar daripada semua biaya. Nah, begitupun juga dalam hidup. Entah sesedikit apa pun hidup kita harus surplus setiap tahun.

  1. Terpengaruh oleh Pesimisme dan Optimisme Orang lain

Ketika kita terpengaruh oleh orang lain meskipun orang tersebut termasuk dari 5% orang yang menguasai 90% uang yang beredar, kita dalam kondisi kurang menguntungkan, kita dalam kondisi kurang menguntungkan karena kalau kita tidak mempunyai sistem sendiri, mungkin kita akan menang di suatu waktu, namun kita tidak tahu kenapa kita menang. Hal ini akan mengakibatkan optimisme tanpa dasar yang kuat dan akan mengakibatkan kekalahan fatal berikutnya.

Walaupun kurang menguntungkan, masih lebih baik kita terpengaruh oleh 5% orang yang menguasai 90% uang yang beredar. Celaka kita kalau kita terpengaruh optimism dan pesimisme dari 95% orang rata-rata, karena kita akan menjadi bagian dari orang rata-rata tersebut. Tidak ada kemenangan sama sekali.

  1. Tidak Punya Mentor yang Baik

Bila dalam hidup ini harus mencoba sendiri segala hal, kita akan menghabiskan waktu dan energi yang jauh lebih banyak dibanding bila kita bisa belajar dari orang yang sudah sukses di bidang yang kita inginkan. Dan rata-rata orang bertanya kepada 95% orang yang rata-rata, maka hasilnya juga akan rata-rata. Kalau kita ingin sukses, kita harus ‘bertanya’ kepada orang yang di atas rata-rata dan ‘mendengarkan’ nasihat mereka, entah kepada 5% yang terbaik atau kepada 1% yang paling baik.

Maksud dari ‘bertanya’ dan ‘mendengarkan’ adalah bisa secara langsung maupun tidak langsung dengan mendengarkan rekaman pembicaraannya, membaca tulisannya ataupun mengikuti seminarnya.